Dan Keponakan [new] | Tante
Tanti melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Ada bahagia karena bisa menghibur, tapi juga ada haru karena ia tahu, menjadi tante bukan hanya tentang membawa kue bolu—tapi juga tentang menjadi pilar saat badai datang. Would you like a version with a different tone (e.g., funny, dramatic, or formal), or a translation into English?
Dita bertepuk tangan gembira. Mereka lalu duduk di ruang tamu, menikmati bolu dan teh hangat. Tanti bercerita tentang pekerjaannya, sementara Dita dengan antusias bercerita tentang tugas sekolah dan mimpi anehnya semalam. tante dan keponakan
Sebelum pulang, Tanti mencium kening Dita. “Tante sayang kamu,” bisiknya. Tanti melangkah keluar dengan perasaan campur aduk
Dita tersenyum. “Dita juga sayang Tante, sampai ketemu lagi minggu depan.” Dita bertepuk tangan gembira
Tapi di balik kebersamaan yang hangat itu, Tanti menyimpan kegelisahan. Adik iparnya baru saja dirawat di rumah sakit, dan kakaknya kewalahan mengatur biaya pengobatan. Tanti diam-diam sudah menyiapkan amplop berisi uang untuk membantu.
Setiap akhir pekan, Tanti selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah kakaknya. Bukan karena ada keperluan penting, melainkan karena ia sudah tidak sabar bertemu dengan keponakan semata wayangnya, Dita.