Lebih dari sekadar identitas etnis, orang Madura merespon Perang Sampit sebagai persoalan kegagalan negara dalam menjamin keselamatan warganya. Kini, setelah 20 tahun lebih, harapan mereka sederhana: diakui sebagai korban yang setara, bukan sebagai biang masalah, serta dihidupkannya kembali program rekonsiliasi budaya yang nyata, bukan sekadar seremoni.
Karena pada akhirnya, baik Dayak maupun Madura sama-sama merasakan getirnya konflik, dan sama-sama merindukan kedamaian yang dulu sempat bersemi di tanah Kalimantan. tanggapan orang madura terhadap perang sampit
SAMPIT, Kalteng – Lebih dari dua dekade telah berlalu, namun gurat trauma dan pertanyaan besar masih tersisa. Perang Sampit (2001) yang menewaskan ratusan jiwa dan memaksa eksodus besar-besaran warga Madura dari Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga kini menjadi babak kelam sejarah Indonesia. Di mata publik nasional, konflik ini kerap disederhanakan sebagai "orang Dayak vs orang Madura." Lantas, bagaimana sebenarnya tanggapan masyarakat Madura, baik yang kini kembali ke kampung halaman di Pulau Madura maupun yang masih memilih tinggal di Kalteng, terhadap peristiwa berdarah tersebut? Bukan Agresi, Tapi Reaksi terhadap Stigma Salah satu tanggapan paling umum yang muncul dari komunitas Madura adalah penolakan terhadap narasi bahwa mereka adalah pihak yang "agresor" atau "pemicu" utama konflik. Sejarawan dan budayawan Madura, K.H. Moh. Syafi’i, menyatakan bahwa akar masalah bukanlah kebencian etnis, melainkan akumulasi krisis sosial ekonomi dan ketimpangan struktural. Lebih dari sekadar identitas etnis, orang Madura merespon
"Kami diusir dengan kekerasan. Rumah, toko, dan kebun karet kami tinggalkan. Pemerintah bilang akan memulihkan, tapi sampai sekarang banyak yang belum mendapat kompensasi. Tanggapan kami pahit: kami kehilangan masa depan hanya karena perbedaan budaya," keluh Hasan Ali, seorang mantan perantau asal Bangkalan yang kini tinggal di pengungsian Pasuruan. Bagi orang Madura yang memilih kembali ke Kalimantan setelah konflik mereda (terutama di Palangka Raya dan sekitarnya), tanggapannya lebih realistis namun penuh luka. Mereka mengakui bahwa sebelum 2001, hubungan dagang dan sosial antara Madura dan Dayak sebenarnya cukup baik. Konflik, menurut mereka, dipicu oleh provokasi elite politik lokal pasca-Reformasi dan kasus kriminalitas yang dilebih-lebihkan. SAMPIT, Kalteng – Lebih dari dua dekade telah
"Orang Madura punya falsafah abantal ombak, alas sendhang (berbantalkan ombak, berkasurkan telaga) — artinya hidup tabah di mana pun. Kami tidak ingin perang adik-kakak terulang. Tanggapan kami hari ini: perkuat dialog budaya, jangan mempertajam perbedaan," tegas tokoh masyarakat Madura di Banjarmasin, H. Rasyid. Secara ringkas, tanggapan orang Madura terhadap Perang Sampit adalah ambivalen . Mereka mengakui ada segelintir oknum dari komunitas mereka yang terlibat tindak kriminal (seperti premanisme atau perusakan hutan) yang memperkeruh suasana. Namun, mereka dengan keras menolak pembenaran atas pembantaian massal yang terjadi.